Kritik Sastra Novel Biola Tak Berdawai Menggunakan Pendekatan Pragmatik

Sinopsis:
Renjani meninggalkan Jakarta untuk mengubur masa lalunya dan keinginannya menjadi penari balet. Ia pindah ke Yogyakarta dan mengabdikan hidupnya dengan merawat anak-anak tuna daksa yang tidak dikehendaki oleh orang tua mereka.
Ia dibantu oleh seorang dokter berusia 40 tahun, Mbak Wid, begitulah sapaan akrab yang sering digunakan Renjani. Sementara panti asuhan yang mereka kelola adalah sebuah rumah yang diwariskan kepada Renjani, sebuah rumah berarsitektur gaya kolonial dengan sentuhan ukiran Jawa yang dibangun pada 1887.
Di panti asuhan tersebut, terdapat seorang anak tunadaksa bernama Dewa, usianya 8 tahun, ia menjadi anak kesayangan Renjani dan selalu diperlakukan sebagai anak normal. Namun, pada suatu malam ketika Renjani secara iseng menari balet, Dewa memberikan reaksi yang membuat Renjani terkejut.
Hal itulah yang menjadi penyebab Renjani membawa Dewa ke resital biola. Di tempat yang tak disangka itu, Renjani berjumpa dengan Bhisma, mahasiswa musik yang berusia 23 tahun. Bhisma tertarik dengan kepribadian Renjani yang sangat memperhatikan Dewa, dari situlah persahabatan dan cinta di mulai.

PENDEKATAN PRAGMATIK
Pendekatan pragmatik mengkaji dan memahami karya sastra berdasarkan fungsinya untuk memberikan pendidikan atau ajaran moral, mau pun fungsi sosial lainnya. Semakin banyak nilai pendidikan moral atau agama yang terdapat dalam karya sastra dan berguna bagi pembacanya, semakin tinggi nilai karya sastra tersebut (Wiyatmi, 2006:86)

KRITIK
Pada dasarnya, novel Biola Tak Berdawai sarat akan nilai-nilai moral. Dewa sebagai pribadi yang menderita autis dan tuna daksa secara fisik seorang yang diyakini tidak memiliki kemampuan untuk mengerti bahasa komunikasi manusia yang normal. Dalam keadaannya yang seperti itu, Renjani tetap memperlakukan Dewa sebagai manusia yang normal.

Ketika kehidupan tidak lagi dihargai, ketika nilai-nilai moral semakin merosot dan semangat kasih sayang sudah sulit ditemukan, Renjani hadir membawa inspirasi dan pengharapan bagi orang-orang yang tidak berdaya. Hal-hal yang dianggap sebagai mitos bahwa dengan cinta dan kasih sayang serta ketulusan hidup dapat diubah sungguh tercermin di dalam novel Biola Tak Berdawai ini. Kasih sayang Renjani kepada anak-anak tunadaksa telah membuat sebuah dunia baru di panti asuhan tersebut, sebuah dunia yang penuh dengan kasih sayang dan kebaikan hati para penjaganya.
Serta ketulusan cinta dari Bhisma yang bertekad untuk merawat Dewa ketika Renjani meninggal akibat kanker rahim yang ia derita akibat aborsi sembarangan yang ia lakukan hasil pemerkosaan guru baletnya.

Watak Renjani dan Bhisma merupakan sebuah idealisme hidup dalam mencintai. Karya ini patut diacungi jempol karena memuat banyak pesan moral. Novel ini mempengaruhi pembaca untuk memiliki ketulusan dalam mencintai orang-orang yang tidak berdaya seperti Dewa dan bayi-bayi tuna daksa lainnya sehingga mereka dapat tumbuh atau setidaknya mampu bertahan hidup dengan kekurangan yang mereka miliki, karena kekurangan sesungguhnya adalah anugerah yang tersembunyi dalam diri seseorang.

Dari sekian banyak kelebihan dari novel ini, ada satu kelemahan, yaitu cerita dalam novel ini terlalu sempurna, dengan pemaparan sifat Renjani yang terlalu penuh kasih, dan Bhisma yang memiliki ketulusan tinggi, serta Mbak Wid yang selalu berbicara apa adanya, mungkin akan banyak orang-orang yang bertanya apakah masih ada seorang tokoh seperti mereka bertiga dikehidupan nyata ini?

Pembuktian kritik:
“Kesombongan memang sebuah teka-teki yang sering disalahtafsirkan,” kata Mbak Wid lagi, “orang kaya karena sombong atau orang sombong karena kaya?” (BTB, 17)

“Anak pintar,” kata ibuku, “makannya habis. Anak Ibu memang pintar, dan hanya anak-anak pintar seperti kamu Dewa, yang boleh tinggal di sini.”
Tapi Mbbak Wid, entah kenapa, seperti tersinggung oleh perhatian ibuku yang dianggapnya berlebihan. Nada suaranya tiba-tiba meninggi.
“Anak-anak yang dibuang orang tuanya. Anak-anak yang bikin malu keluarga. Anak-anak yang cacatnya dobel-dobel. Anak-anak yang umurnya tidak lama!”
Ibuku mengimbangi dengan perlahan.
“Ssstt.. Mbak Wid.. ada Dewa...”
Maka Mbak Wid pun berbicara tentang diriku.
“Duuuhhh, Renjaniiii, Renjani... Saya tahu kamu sangat sayang kepada Dewa, tapi anak itu tidak mengerti omongan kita. Itu anak tidak mengerti apa-apa. Dia bukan saja jaringan otaknya rusak, tapi juga autistik. Matanya terbuka tapi tidak melihat. Telinganya tidak mendengar. Kamu sendiri kan sudah melihat hasil test-nya.”
“Tapi hasil tes itukan Cuma memberitahu keadaan fisiknya saja. Kita tidak pernah bisa tahu bagaimana perasaan Dewa.” (BTB, 18)

“Kita tidak usah menambah beban mereka yang pendek akal, jiwanya kerdil, dan tidak bernyali menghadapi kenyataan. Kita anggap saja bayi-bayi ini titipan Tuhan, sebelum mereka dipanggil kembali.” (BTB, 25)

“Mereka bilang anak kami anak iblis, ada yang bilang anak setan. Mereka mengepung rumah kami sambil membawa parang untuk mencincang. Membawa Wulandari kemari adalah pilihan kami yang terbaik daripada  membuangnya.”
Mereka tidak keliru, karena ibuku dan Mbak Wid merawatnya dengan sepenuh hati. Ibuku juga selalu membebaskan para perawat panti asuhan, yang tampak merasa jijik kepada bayi-bayi itu, untuk pergi – dan tidak usah kembali. (BTB, 27)

Ibuku lantas mendekati aku, menciumi aku – kurasakan airmatanya yang hangat mengalir dalam hatiku.
“Ibu! Ibu! Jangan menangis Ibu!”
Tapi bagaimana caranya ia mendengarku? Airmatanya mengalir berderai, matanya berkaca-kaca memantulkan cahaya temaram yang semakin terasa muram. (BTB, 55)

Bhisma pun berbicara dengan dirinya sendiri.
“Dewa, dan bayi-bayi lainnya, mereka juga ciptaan Tuhan, seperti ciptaan Tuhan lainnya, mereka juga puunya keindahan tersendiri.”
Renungannya bagai memasuki sebuah terowongan yang penuh rintangan dan pertanyaan-pertanyaan tak terjawab.
“Saya sempat berpikir waktu pertama kali melihat mereka. Buat apa mereka dilahirkan, sepertinya tidak berguna. Seperti... seperti biola... seperti biola yang tidak ada dawainya. Seperti biola tak berdawai...”
Ibuku seperti mengikuti Bhisma di terowongan gelap itu. Keduanya seperti berbicara sendiri-sendirikepada entah siapa di kejauhan di balik kaki langit sana.
“Tidak bisa dimainkan. Tidak bisa menghasilkan nada-nada indah... Tapi kamu percaya di dunia ini ada keajaiban?” (BTB, 115)

Bhisma melangkah pelan-pelan ke arahku. Berlutut. Lantas meraih dan memelukku. Didekapnya aku ke dalam dadanya. Bagaikan kulihat lautan bergelora dalam badai dahsyat tidak terkira. Ia memelukku dengan sangat keras dan berteriak keras.
“Aaaaaaaaarrrrggghhhhh!!!” (BTB, 160)

Bhisma memainkan biolanya dengan seluruh jiwa, dalam dadanya berkembang suatu rasa yang tercermin dari nadanya: pedih dan ngelangut – duka dan haru yang saling bergayut. Apakah ibuku mendengarnya? Apakah ibu mendengar betapa di dunia ini terdapat seseorang yang dangat membutuhkannya? (BTB, 190)

Lagu itu menjelma lagi. Kini kulihat ibuku – pemandangan yang tadi terputus bersambung kembali. Ibuku mengembangkan tangan dengan senyuman suci, bersiap menyambutku ke dalam pelukannya yang penuh dengan cinta. Aku mendongak berusaha menggapai ibuku.
Aku ternyata memang mendongak di kuburan, bagaikan melihat ibuku terbang seperti bidadari langit.
Bhisma tertegun dan biolanya terhenti.
Tanpa kusadari dari mulutku keluar suara.
“D..de...f..faa...shaa...aang...ii...buu.”
Bhisma mengangkat dan mendekapku, seperti mendekap cinta ke dalam hatinya. (BTB, 191)

Komentar

Postingan Populer