Esai "Oud Batavia, Sebuah Kota Tua di Pinggiran Ibukota"
Jakarta Kota atau yang dulu disebut dengan ‘Oud Batavia’ atau pun yang kini lebih dikenal dengan Kota Tua Jakarta adalah sebuah kota kecil yang terletak di pinggiran ibukota. Wilayah khusus ini memiliki luas 1,3 kilometer persegi melintasi Jakarta Utara dan Jakarta Barat. Pada abad ke-16, Kota Tua Jakarta dijuluki “Permata Asia” dan “Ratu dari Timur” oleh para pelayar Eropa, kota ini dianggap sebagai pusat perdagangan untuk benua Asia karena lokasinya yang strategis dan sumber daya yang melimpah.
Jakarta Kota pernah menjadi ‘kota’ dalam artian yang sebenarnya. Kota yang intensitas hidup dan kehidupannya memberikan konstribusi bagi kehidupan sosial, jalur distribusi barang, dan jasa. Namun kini, seperti yang kita ketahui, Kota Tua seolah kehilangan jiwanya. Sesuai dengan namanya, ‘Kota Tua’, semakin menua, ditinggalkan, dan hampir mati adalah sifat yang mencerminkan kondisi Kota Tua saat ini.
Sebanyak 182 bangunan di Kota Tua Jakarta terbengkalai. Jika kita berjalan-jalan di kawasan tersebut, kita akan disuguhkan dengan berbagai macam bangunan yang memiliki ciri khas eksotis peninggalan masa kolonial Belanda.
Namun, sekali lagi, sesuai dengan namanya, bangunan-bangunan di kawasan ini banyak yang sudah kusam, atap yang hampir roboh atau bahkan sudah roboh, dan juga kawasan ini dihindari menjadi tempat tinggal atau pun kantor. Ada satu atau dua gedung yang dialihfungsikan menjadi restoran, cafe, dan tempat hiburan lain.
Terlepas dari segala keburukan yang telah terjadi di Kota Tua Jakarta, kita masih dapat melihat banyak hal yang indah dari kota kecil yang memiliki luas 1,3 kilometer persegi ini, meski pun beberapa bangunan telah dihancurkan dengan alasan tertentu dalam pengembangan daerah Jakarta, beberapa tempat tersebut adalah:
Benteng Batavia, dihancurkan antara 1890-1910, beberapa material digunakan untuk pembangunan Istana Deandels yang sekarang bernama Departemen Keuangan Nasional.
Gerbang Amsterdam, berlokasi di pertigaan Jalan Cengkeh, Jalan Tongkol dan Jalan Nelayan Timur. Tempat ini dihancurkan untuk memperlebar akses jalan, dihancurkan pada tahun 1950.
Jalur Trem Batavia, jalur ini pernah ada di kota Batavia, tetapi sekarang sudah ditimbun oleh aspal. Karena Presiden Soekarno menganggap Trem Batavia lah penyebab dari kemacetan.
Sebagai permukiman penting, pusat kota, dan pusat perdagangan di Asia sejak abad ke-16, Oud Batavia merupakan rumah bagi beberapa situ dan bangunan bersejarah di Jakarta, antara lain:
Gedung Arsip Nasional
Gedung Chandranaya
Vihara Jin De Yuan
Petak Sembilan
Gereja Sion
Tugu Jam Kota Tua Jakarta
Stasiun Jakarta Kota
Kantor Pos
Cafe Batavia
Museum Bank Indonesia
Museum Wayang
Lapangan Fatahillah
Kali Besar
Hotel Former
Galangan VOC
Pelabuhan Sunda Kelapa
Mesjid Luar Batang,
dll.
Meski saat ini banyak bangunan dan arsitektur bersejarah yang memburuk kondisinya seperti Museum Sejarah Jakarta (merupakan bekas Balai Kota Batavia, kantor dan kediaman Gubernur Jendral VOC), Museum Bahari, Pelabuhan Sunda Kelapa, dan Museum Bank Indonesia, tetapi masih ada usaha perbaikan Kota Tua, khususnya dari berbagai organisasi nirlaba, institusi swasta dan pemerintah kota yang telah bekerja sama untuk mengembalikan warisan Kota Tua Jakarta. Pada 2007, beberapa jalan di sekitar Lapangan Fatahillah seperti Jalan Pintu Besar dan Jalan Pos Kota, telah ditutu sebagai tahap pertama perbaikan.
Komentar
Posting Komentar