Sedikit Cerita Tentang Semua Hal
Bagian 1, Aku.
Apa kabar? Lama tidak berjumpa.
Jika kau bertanya mengapa aku berhenti menulis, jawabannya adalah aku tidak berhenti. Hanya saja, aku kehilangan kemampuan menulisku. Puisi-puisi sedih yang dahulu kutuliskan, sudah tidak terlintas satu bait pun dalam benak. Kupikir karena aku cukup bahagia saat ini. Bahagia tentang segala hal. Sejujurnya aku masih ragu, apakah aku benar-benar bahagia, atau aku memang bodoh? Atau satu hal lagi, apakah aku sedang menikmati hidupku saat ini, yang tidak sulit tetapi juga tidak mudah.
Saat kubaca tulisan-tulisanku yang lalu, aku berpikir "Apa benar aku yang menulis ini semua? Namun, mengapa sekarang sudah tidak bisa?" Tanda tanya inilah yang menjadi teka-teki selanjutnya, sesuatu yang harus kutahu penyebabnya. Aku bukan penyair berdarah yang akan menulis hanya ketika terluka, pun di saat-saat bahagia kupikir aku harus menulis.
Namun, sesuatu yang tercipta dari duka jauh berbeda dengan sesuatu yang tercipta dari suka. Apakah orang-orang, termasuk diriku, akan menciptakan sesuatu hanya saat berduka? Entahlah, aku masih mencari jawabannya.
- Jakarta, Hari ke 29 Juli. -
Komentar
Posting Komentar