Kritik Sastra Puisi "Sendiri" Karya Chairil Anwar

Sendiri

Hidupnya tambah sepi, tambah hampa
Malam apa lagi
Ia memekik ngeri
Dicekik kesunyian kamarnya

Ia membenci. Dirinya dari segala
Yang minta perempuan untuk kawannya

Bahaya dari tiap sudut. Mendekat juga
Dalam ketakutan-menanti ia menyebut satu nama

Terkejut ia terduduk. Siapa yang memanggil itu?
Ah! Lemah lesu ia tersedu: Ibu! Ibu!

     Karya sastra tidak lahir dari situasi kosong budaya (Teew, 1980:11). Pendekatan mimetik memiliki pandangan bahwa karya sastra sebagai tiruan alam, kehidupan atau dunia ide. 
     Dalam puisi "Sendiri" karya Chairil Anwar ia dengan jelas menggambarkan bagaimana hidup yang ia rasakan tanpa seorang ibu. Hampa. Puisi itu ditulis oleh Chairil pada Februari 1943, satu bulan sebelum puisi "Aku" ia tulis. Chairil adalah pemuda dengan semangat yang membara, mencerminkan bagaimana ia selalu berjuang untuk kemerdekaan melalui puisi-puisinya. 
          Namun tetap saja, seberapa kokoh pu  seseorang, akan ada masa dimana ia surut, meski hanya sekali. Puisi "Sendiri" seperti berbicara kepada para pembaca bahwa ia merindukan ibunya. Seperti yang yang pernah saya baca diketahui bahwa Chairil selalu keluar masuk penjara, walau pun ia lolos tetap saja badannya penuh lebam. Sekuat apa pun seseorang, pasti ia membutuhkan sandaran disaat ia tak bisa berbuat apa-apa. Ibu. Segala macam keindahan yang ada dimuka bumi, ialah Ibu. 
          Dimana pun seseorang berada, meski dalam keadaan seburuk apapun, asalkan ada seorang ibu di sampingmu, maka kau akan merasa aman. 
            Puisi "Sendiri" ini memiliki cerminan yang sesuai pada keadaan zaman ini. Banyak anak-anak dari berbagai daerah pergi meninggalkan kampungnya untuk bekerja, menimba ilmu, atau pun dengan berbagai alasan yang lainnya. Saat-saat seperti itu adalah saat yang memilukan yang akan dirasakan oleh setiap orang, berpisah dari keluarga yang ia sayangi. 
            Namun, saat ia telah tiba di tempat tujuannya, terkadang ia sengaja untuk tidak selalu memberi kabar, karena tak ingin keluarganya cemas. Tetapi, jauh di dalam lubuk hati orang-orang yang terpisah, ia pasti selalu ingin memberikan kabar dan bercerita tentang berbagai hal. Karena hanya keluargalah yang mampu membuat seseorang merasa lengkap, terutama ibu. Manusia yang selalu berbicara tanpa henti, tetapi seisi dunia selalu memihak padanya, ialah ibu.  

Komentar

  1. Terima kasih kak,Sangat bermanfaat๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š

    BalasHapus
  2. Terima kasih banyak kak, sangat membantu ๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca tulisan saya ☺

      Hapus
  3. Terimakasih banyakkkkk benar benar membantuk

    BalasHapus
  4. Hmmm makasih kak membantu bgt buat referensi tugas saya. Walau agak tenggelam blog ini tapi ini yang paling cocok buat referensi tugas saya.

    BalasHapus
  5. Wah!!! Maantap.
    Saya mampir ke sini karena DKJ mengadakan lomba Kritik Sastra 2022; temanya tentang Chairil. ๐Ÿ™
    Btw, mksh. Senang membca analisisnya.

    BalasHapus
  6. Maaf oot ada yang tau ga struktur puisi sendiri karya chairil anwar

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer